Wednesday, July 16, 2014

Prinsip Dasar Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 juli 2013, sedangkan implementasinya telah diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014 di sekolah-sekolah tertentu atau masih terbatas. Pelaksanaan pembelajaran pada kurikulu 2013 memiliki karakeristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum KTSP. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi yang diharapkan, terdapat 14 prinsip utama pembelajaran yang perlu guru terapkan/ketahui:
1.      Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran mendorong siswa menjadi pebelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak berusaha untuk memberitahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final. Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan.
2.      Dari guru sebagi satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber; kegiatan pembelajaran membuka peluang kepada siswa untuk mencari sumber seperti informasi dari buku siswa, internet, koran, malajalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek, pemecahan masalah dan inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di luar kelas.
3.      Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa dalam bentuk tes. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, desain program, mind maping, gambar, diagram, tabel, kemampuan berkomunikasi kemampuan mempraktikan.
4.      Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan dan keterampilannya.
5.      Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; semua materi pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan. Oleh karena itu, guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama, menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran bersama-sama.
6.      Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; disini siswa belajar menerima kebenaran yang tidak tunggal. Hal ini dapat dianalogikan sebagai siswa melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika sejumlah siswa yang melukiskan awan pada jam yang sama dari tempat yang berjauhan, mereka akan melukiskannya berbeda-beda, semua benar tentang awan tersebut, benar menjadi beragam.
7.      Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; sebelumnya segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan, fakta disampaikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus melihat faktanya, gambarnya, videonya, diagramnya, serta teksnya yang membuat siswa melihat, meraba dan merasa dengan panca inderanya.
8.      Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskill) dan keterampilan mental (softskill); angka dalam raport tidak hanya melaporkan angka dalam bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangkut perkembangan sikapnya dan keterampilannya.
9.      Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai pebelajar sepanjang hayat; hal ini memerlukan guru untuk mengembangkan pembinaan sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa bahkan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global.
10.  Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran; disini guru perlu menemparkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, memberi contoh bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan perilaku lain. Guru di depan jadi teladan, di tengah menjadi teman belajar dan di belakang selalau mendorong semangat siswa tumbuh.
11.  Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan waktu dalam kelas.
12.  Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa dan dimana saja adalah kelas; prinsip ini meniadakan bahwa ruang kelas belajar siswa tidak hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar untuk siswa belajar.
13.  Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; disini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat belajar dari siapa saja. Yang paling penting  mereka harus dapat menguasai TIK sebab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK.
14.  Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapatkan pendidikan di rumah, cara pandang, cra belajar, cara berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman.

***SEMOGA INFORMASI INI DAPAT BERGUNA***

No comments:

Post a Comment