Prinsip
Dasar Kurikulum 2013
Kurikulum 2013
diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 juli 2013, sedangkan implementasinya
telah diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014 di sekolah-sekolah tertentu atau
masih terbatas. Pelaksanaan pembelajaran pada kurikulu 2013 memiliki
karakeristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum KTSP. Berdasarkan hasil
analisis terhadap kondisi yang diharapkan, terdapat 14 prinsip utama
pembelajaran yang perlu guru terapkan/ketahui:
1.
Dari siswa diberi tahu menuju
siswa mencari tahu; pembelajaran
mendorong siswa menjadi pebelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak
berusaha untuk memberitahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan
dalam bentuk final. Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu
siswa terhadap fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya
dalam bentuk pertanyaan.
2.
Dari guru sebagi satu-satunya
sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber; kegiatan pembelajaran membuka
peluang kepada siswa untuk mencari sumber seperti informasi dari buku siswa,
internet, koran, malajalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada
metode proyek, pemecahan masalah dan inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber
belajar di luar kelas.
3.
Dari pendekatan tekstual menuju
proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru
tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-satunya sumber
belajar siswa dan hasil belajar siswa dalam bentuk tes. Hasil belajar dapat
diperluas dalam bentuk teks, desain program, mind maping, gambar, diagram,
tabel, kemampuan berkomunikasi kemampuan mempraktikan.
4.
Dari pembelajaran berbasis konten
menuju pembelajaran berbasis kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar,
tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang dikembangkan dan dinilai
adalah sikap, pengetahuan dan keterampilannya.
5.
Dari pembelajaran parsial menuju
pembelajaran terpadu;
semua materi pelajaran perlu
diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan. Oleh
karena itu, guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama, menentukan karya
siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran
bersama-sama.
6.
Dari pembelajaran yang menekankan
jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi
dimensi; disini
siswa belajar menerima kebenaran yang tidak tunggal. Hal ini dapat dianalogikan
sebagai siswa melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan
melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika sejumlah siswa yang melukiskan awan
pada jam yang sama dari tempat yang berjauhan, mereka akan melukiskannya
berbeda-beda, semua benar tentang awan tersebut, benar menjadi beragam.
7.
Dari pembelajaran verbalisme
menuju keterampilan aplikatif;
sebelumnya segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan, fakta disampaikan
dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus melihat faktanya,
gambarnya, videonya, diagramnya, serta teksnya yang membuat siswa melihat,
meraba dan merasa dengan panca inderanya.
8.
Peningkatan dan keseimbangan
antara keterampilan fisikal (hardskill)
dan keterampilan mental (softskill); angka dalam raport tidak hanya
melaporkan angka dalam bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi
menyangkut perkembangan sikapnya dan keterampilannya.
9.
Pembelajaran yang mengutamakan
pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai pebelajar sepanjang hayat; hal ini memerlukan guru untuk
mengembangkan pembinaan sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai
dengan budaya masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa
perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa
bahkan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan beradaptasi pada
lingkungan global.
10.
Pembelajaran yang menerapkan
nilai-nilai dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan
kreativitas siswa dalam proses pembelajaran; disini guru perlu menemparkan diri sebagai
fasilitator yang dapat menjadi teladan, memberi contoh bagaimana hidup selalu
belajar, hidup patuh menjalankan agama dan perilaku lain. Guru di depan jadi
teladan, di tengah menjadi teman belajar dan di belakang selalau mendorong
semangat siswa tumbuh.
11.
Pembelajaran berlangsung di
rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak
dan memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya
memanfaatkan waktu dalam kelas.
12.
Pembelajaran menerapkan prinsip
bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa dan dimana saja adalah
kelas; prinsip
ini meniadakan bahwa ruang kelas belajar siswa tidak hanya dibatasi dengan
dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar untuk
siswa belajar.
13.
Pemanfaatan Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
disini sekolah
perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum
memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat belajar dari siapa saja. Yang paling
penting mereka harus dapat menguasai TIK
sebab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan
menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK.
14.
Pengakuan atas perbedaan
individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita, latar belakang keluarga, cara
mendapatkan pendidikan di rumah, cara pandang, cra belajar, cara berpikir,
keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat
perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan
menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman.
***SEMOGA INFORMASI INI DAPAT
BERGUNA***
No comments:
Post a Comment